Ressume 13 : Kaidah Pantun

 

RESUME 13.  KEGIATAN BELAJAR MENULIS NASIONAL PGRI

Resume ke      : 13
Tema.               : Kaidah Pantun
Hari/ Tanggal  : Senin, 06 Juni 2022
Pukul                : 19.00 - 21.00 Wib
Gelombang      : 28
Narasumber.    : Miftahul Hadi, S.Pd
Moderator.       : Dail Ma'ruf, M.Pd

Kantuk menyerangku begitu hebat, seakan takmampu untuk menolaknya dan ingin sekali untuk mengikuti ajakan hati untuk merebahkan diri dan mengistirahatkan raga yang terasa begitu lelah, terforsir aktivitas dan tuntutan tanggungjawab yang tak pernah ada habisnya.

 

Akhirnya kuputuskan untuk sejenak berbaring sambil merenungkan dan memikirkan tugas-tugas yang masih membutuhkan perhatianku dan secepatnya harus diselesaikan, sehingga tak semakin banyak pekerjaanku yang tertunda.

 

Mengingat dan menghitung segala harapan yang telah terimbun sekian waktu berlalu, kantukku sirna seketika. Mimpi dan harapanku seakan telah membakar semangatku kembali, sehingga kuputuskan untuk bangkit dan mengikuti pertemuan ke-13 Kegiatan Belajar Menulis Nasional (KBMN) PGRI gelombang 28, yang mengangkat tema “Kaidah Pantun”

 

Tema yang begitu eksotik siap disajikan oleh Pak Guru Miftahul Hadi, S.Pd, yang saat ini  mengabdikan diri di SD Negeri Raji 1 Demak, sebagai narasumber tunggal dan akan ditemani oleh Pak Dail Ma’ruf selaku moderator yang siap membantu para pesert.

 

Dan inilah salah satu contoh, pantun yang selama ini kubuat :

 

Pagi merekah, alampun bersukaria

Pujian bergema, menghias pagi indah

"Mereka menjamah, hanya jubah-NYA saja

Dan semuanya, menjadi sembuh" (Mrk 4:36)

 

Pujian indah, memuliakan asma-NYA

Pagi yang redup, tergusur oleh sinar-NYA

Mari berserah, hanya kepada-NYA

Percayakan hidup, dan pengharapan kita

 

Demikian pantun yang kubuat tadi pagi, sesaat setelah bangun tidur pagi, dalam upaya menyiapkan diri menyambut hari dengan menerima sapaan Tuhan lewat bacaan harian yang kuambil dari bacaan Kitab Suci yang rutin kulakukan hampir di setiap pagi.

 

Puji Tuhan, entah sudah berapa banyak pantun yang kumiliki saat ini. Aku tak peduli, meski sebetulnya sayang bila aku buang begitu saja.

 

Dan malam ini, tetiba di group KBMN menawarkan satu tema yang begitu mempesona dan mampu memikat hati hatiku untuk mengikutinya hingga tuntas.

 

Lebih lanjut, penulis ingin memaparkan penjelasan yang telah disampaikan secara runtun oleh Pak Miftah tentang berbagai hal menyangkut pantun, atau bisa juga dibaca biodata dan sekaligus materi pada link https://anyflip.com/wiirj/cfbd/

 

Dan inilah penjelasan yang kita dapatkan secara lengkap dari Pak Miftah, melalui chatting WhatSapp group KBMN PGRI Gelombang 28, yang diawali oleh Pak Miftah dengan pantun yang lembut:

Bunga sekuntum tumbuh di taman,

Daun salam elok mahkota,

Assalamualaikum saya ucapkan,

Sebagai salam pembuka kata.

 

Menanam padi di musim hujan

Padi ditanam berharap panen

Mari belajar beang mas hadi kawan

Semoga semuanya berkenan

 

Pantun berikutnya dilontarkan oleh Pak Miftah, ketika di tanya kabar oleh moderator,demikian syairnya yang begitu menenangkan jiwa

Kalau tuan ke pulau Mempar,

Batu terbelah di gunung Daik,

Kalau tuan bertanya kabar,

Alhamdulillah kabar baik.

 

Tak hanya sampai di situ, pantun berikutnya juga kembali dilemparkan kembali oleh Pak Miftah, demikian syairnya :

Banjir kanal jembatan patah,

Rimbun semak di pinggir kali,

Salam kenal saya mas Miftah,

Dari Demak berjuluk kota wali.

 

Pak dail, membalas syair dari Pak Miftah, ini syair buatan Pak Dail, moderator yang juga narasember yang disampaikan pada keegiatan sebelumnya.

Kalau Puan pergi ke Pasar

Jangan lupa membeli payung

Kalau tuan ingin hatinya Bugar

Jangan lupa membuat pantun

 

Begitu jogonya mereka berdua saling lempar pantun, dan sayapun secara pribadi sangat suka mendengarkan orang berbalas pantun, yang merupakan khas sebagai Budaya Melayu ataupun Betawi. Lebih lanjut, dijelaskan bahwa Indonesia memiliki kekayaan seni verbal yang sangat beranekaragam, salah satunya adalah pantun. Beberapa pertunjukan pantun, bersifat narasi misalnya, Kentrung di Jawa Tengah dan Jawa Timur yang menggunakan struktur ‘pantun’ untuk menceritakan kisah-kisah sejarah keagamaan atau sejarah lokal dengan iringan genderang. Namun juga perli kita ketahui bahwa di tiap daerah juga memiliki pantun, seperti di Tapanuli, pantun dikenal dengan istilah ende-ende (Suseno, 2006) yang memiliki empat baris dan sering disampaikan saat membuka atau menutup sambutan. Ada juga pantun jenaka, membawa bahagia dan sekarang, pantun sudah biasa digunakan dimana-mana dan banyak dinantikan banyak orang baik dalam acara formal/nonformal penggunaan pantun banyak dinantikan

Contoh :

Molo mandurung ho dipabu,

Tampul si mardulang-dulang,

Molo malungun ho diahu,

Tatap siru mondang bulan.

 

Artinya :

Jika tuan mencari paku,

Petiklah daun sidulang-dulang,

Jika tuan rindukan daku,

Pandanglah sang bulan purnama.

 

Di Sunda, pantun dikenal dengan istilah paparikan (Suseno, 2006)

Contohnya :

Sing getol nginum jajamu,

Ambeh jadi kuat urat,

Sing getol maengan ilmu,

Gunana Dunya akhirat.

 

Artinya :

Rajinlah minum jamu,

Agar kuatlah urat,

Rajinlah tuntut ilmu,

Bagi dunia akhirat.

 

Di Jawa, pantun dikenal dengan istilah parikan (Suseno, 2006)

Contoh :

Kabeh-kabeh Gelung konde,

Kang Endi kang Gelung Jawa,

Kabeh-kabeh ana kang duwe,

Kang Endi kang durung ana.

 

Artinya :

Semua bergelung konde,

Manakah si Gelung Jawa,

Semua sudah ada yang punya,

Siapakah yang belum punya.

 

Pantun diakui oleh UNESCO sebagai Warisan Budaya Tak benda  pada sesi ke-15 Intergovernmental Committee for the Safeguarding of the Intangible Cultural Heritage di Kantor Pusat UNESCO di Paris, Prancis (17/12/2020)

 

Pada hakikatnya, sebagian besar kesusastraan tradisional Indonesia membentuk pondasi dasar pertunjukan genre campuran yang kompleks, seperti "randai" dari Minangkabau wilayah Sumatra Barat, yang mencampur antara seni musik, seni tarian, seni drama, dan seni bela diri dalam perpaduan seremonial yang spektakuler. Dari berbagai macam pantun yang ada di tiap daerah, berikut terdapat definisi pantun.

1.     Pantun menurut Renward Branstetter (Suseno, 2006; Setyadiharja, 2018; Setyadiharja, 2020) berasal dari kata “Pan” yang merujuk pada sifat sopan. Dan kata “Tun” yang merujuk pada sifat santun. Kata “Tun” dapat diartikan juga sebagai pepatah dan peribahasa (Hussain, 2019)

2.     Tuntun (Pampangan): teratur, Tonton (Tagalog): mengucapkan sesuatu dengan susunan yang teratur, Tuntun ( Jawa juno): benang, Atuntun: teratur, Matuntun: pemimpin, Panton (Bisaya); mendidik, Pantun (Toba): kesopanan atau kehormatan (Hussain, 2019)

3.     Pantun berasal dari akar kata “TUN” yang bermakna “baris” atau “deret”. Asal kata Pantun dalam masyarakat Melayu-Minangkabau diartikan sebagai “Panutun”, oleh masyarakat Riau disebut dengan “Tunjuk Ajar” yang berkaitan dengan etika (Mu’jizah, 2019)

4.     Pantun adalah termasuk puisi lama yang terdiri dari empat baris atau rangkap, dua baris prtama disebut dengan pembayang atau sampiran, dan dua baris kedua disebut dengan maksud atau isi (Yunos, 1966; Bakar 2020)

 

Kaidah Pantun :

Selain digunakan untuk berkomunikasi sehari-hari pada zaman dahulu, pantun bisa juga diguakan untuk mengawali sambutan pidato, juga untuk lirik lagu, perkenalan, ataupun dakwah bisa juga disisipi pantun, selain itu juga dapat digunakn untuk melatih seseorang berfikir tentang makna kata sebelum berujar.

 

Ciri Pantun :

1.     Satu bait terdiri atas empat baris (wajib)

2.     Satu baris terdiri atas empat sampai lima kata (idealnya)

3.     Satu baris terdiri atas delapan sampai dua belas suku kata

4.     Bersajak a-b-a-b, tapi boleh juga bersaja a-a-a-a namun mengurangi keindahan pantun itu sendiri

5.     Baris pertama dan kedua disebut sampiran atau pembayang

6.     Baris ketiga dan keempat disebut isi atau maksud

Ada juga pantun yang hanya dua baris, disebut karmina atau pantun kilat.

Contoh : Sudah gaharu Cendana pula, sudah tahu bertanya pula.

 

Guna Pantun :

1.     Untuk komunikasi sehari-hari

2.     Untuk kata sambutan dalam pidato

3.     Untuk menyatakan perasaan

4.     Untuk membuat lirik lagu

5.     Untuk perkenalan

6.     Bercaeramah/ dakwah

 

Fungsi Pantun sebagai Pemelihara Bahasa

1.     Sebagai alat pemelihara bahasa, pantun berperan sebagai penjaga fungsi kata dan kemampuan menjaga alur berfikir

2.     Pantun melatih seseorang brfikir tentang makna kata sebelum berujar

3.     Secara sosial pantun memiliki fungsi pergaulan yang kuat

4.     Pantun menunjukkan kecepatan seseorang dalam berfikir dan bermain dengan kata

5.     Secara umum peran sosial pantun adalah sebagai penguat penyampaian pesan

 

Perbedaan Pantun dan Sastra lain :

A.    Pantun, memiliki

1.     Baris :

Ø Terdiri dari empat baris

Ø Baris pertama dan kedua disebut sampiran atau pembayang

Ø Baris ketiga dan keempat disebut isi atau maksud

2.     Sajak :

Ø A-B-A-B

3.     Hubungan Persajakan :

Ø Antara sampiran dan isi tidak memiliki hubungan sebab akibat

B.    Syair :

1.      Baris :

Ø Terdiri dari empat baris

2.      Sajak :

Ø A-A-A-A

3.      Hubungan Persajakan :

Ø Ke-empat barisnya saling berhubungan

4.      Contoh :

Inilah kisah bermula kawan

Tentang negeri elok rupawan

Menjadi rebutan haparan jajahan

Hidup mati pahlawan memperjuangkan


Engkau telah mafhum kawan

Penggenggam bambu runcing ditangan
Pemeluk tetes darah penghabisan
Syahdan, Tuhan karuniai kemerdekaan

 

C.    Gurindam :

1.     Baris :

Ø Terdiri dari dua baris

2.     Sajak :

Ø  A-A

3.     Hubungan Persajakan :

Ø  Baris pertama dan kedua merupakan sebab akibat yang memiliki keterkaitan

Ø  Karmina, terdiri atas dua baris. Baris pertama dan kedua tidak ada hubungannya.

4.     Contoh :

Jika rajin salat sedekah,

Allah akan tambahkan berkah.

 

Trik Membuat Pantun :

1.     Memahami kaidah dalam penulisan pantun

2.     Memiliki perbendahara kata, sehingga mempermudah pengembangan materi pantun, yang disusun agar memiliki bunyi akhir sama, minimal dua huruf akhir.

3.     Jika membuat pantun, susunlah baris ketiga dan keempat terlebih dahulu.

4.     Baru yang terakhir, susun baris pertama dan kedua.

 

Penting : Ada beberapa persajakan

1.     Rima Akhir :

Pohon nangka dililit benalu,

Benalu runtuhkan batu bata,

Mari kita waspada selalu,

Virus corona di sekitar kita

 

2.     Rima tengah dan akhir

Susun sejajar bungalah bakung,

Terbang menepi si burung elang,

Merdeka belajar marilah dukung,

Wujud mimpi Indonesia cemerlang

 

3.     Rima awal, tengah dan akhir

Jangan dipetik si daun sirih,

Jika tidak dengan gagangnya,

Jangan diusik orang berkasih,

Jika tidak dengan sayangnya.

 

4.     Rima lengkap

Bagai patah tak tumbuh lagi,

Rebah sudah selasih di taman,

Bagai sudah tak suluh lagi,

Patah sudah kasih idaman.

 

Sesi Tanya Jawab :

 

P1. HR Utami – Semarang

Pertanyaan : Apakah sama dengan yang di Jawa disebut Parikan? kalau begitu selaras dengan pemaknaannya di Jawa. Pantun pada umumnya berisi nasihat, nah panuntun dalam bahasa Jawa itu berarti  petunjuk, panuntun, tuntunan, ajaran

Tua-tua maunya serba tahu,

Ikut KBM biar makin pintar,

Meski tua ingin terus maju,

Tak peduli dengan komentar.

Jawab : kalo di Jawa, pantun disebut parikan. Bisa parikan dua baris.

Contohnya :

Kendal Kaliwungu,

Ajar kenal Karo aku.

Ataupun parikan yang empat baris, seperti yang sudah kami contohkan di atas.

 

P2: Yoyon Supriyono, Dari : Cirebon

Pakai jean atasannya kemeja

Wanita betah memakai hijab

Mohon izin untuk bertanya

Semoga kang Miftah bisa menjawab

 

P3. Amin Kurniawan

Pertanyaan : 

1.     Tolong dijelaskan jenis-jenis pantun itu apa saja dan beserta contohnya?

2.     Untuk menjadi buku itu minimal berapa buah pantun??

3.     Untuk menjadi buku minimal berapa pantun? Terimakasih

Jawab  : 

Jenis-jenis pantun yang umum diketahui antara lain

1.     Pantun nasihat : pantun yang isinya (baris ketiga dan keempat) nasihat kebaikaN Contoh :

Tegak berdiri si batang Suji,

Tanam di samping petai cina,

      Sejak kecil rajin mengaji,

Sudah besar tentu berguna.

 

2.     Pantun jenak : pantun yang berisi hal-hal lucu

Contoh :

Ikan gabus ada di rawa,

Ikan lele ada di kali,

Nenek menangis sambil tertawa,

Melihat kakek main lompat tali

.

3.     Untuk menjadi buku minimal berapa pantun?

Kalau buku solo pantun milik saya berisi 400an pantun dengan tebal 170 halaman

 

P4. Saepul Hikmah – Karawang

Pertanyaan :

Apa perbedaan yang mendasar antara pantun, puisi dan sajak? Bolehkan kerika dibaca

memakai iringan musik?

Jawab :

            Perbedaan pantun dan puisi.

Hal mendasar, Pantun terikat jumlah baris,  sedangkan puisi jumlah barisnya bebas.

Sedangkan sajak adalah puisi Melayu modern yang berbentuk bebas dan tidak terikat

jumlah baris.

Dalam membacakan pantun boleh saja diiringi musik. Sekaran ini banyak sekali event

perlombaan dendang pantun.

 

P5. Evridus Mangung – Flores

Di materi yang dishare di https://anyflip.com/wiirj/cfbd/ tidak dijelaskan posisi pantun dengan puisi. Hanya dijelaskan posisi pantun terhadap syair dan gurindam. Sementara di bagian rima,  pantun juga menekankan soal penggunaan rima seperti halnya pada puisi.

Pertanyaan  :

Bagaimana posisi puisi terhadap pantun?

Jawab :

 

Dalam slide tersebut memang saya tidak menyertakan puisi. Agar bapak ibu bisa membedakan antara pantun, syair, gurindam dan karmina. Karena keempat karya sastra tersebut hampir mirip. Beda antara puisi dengan pantun, yang jika dilihat sekilas sudah tahu perbedaannya.

 

 

P6 : Endang – Bogor

Pertanyaan :

1.     Jika ada yang membuat pantun bagaimana cara kita membalas pantunnya.

2.     Adakah pakem 2 khusus untuk pantun ? Terima kasih

Jawab :

 

P7 : Maria Ulfa_Lombok.

Luar biasa penjelasan narasumber. Saya betul-betul paham tentang cara menyusun pantun. Pertanyaan :

Mengapa kita harus mengajarkan Pantun kepada generasi bangsa, Pak Mif.

Terima kasih.

Jawab : Pertanyaan yang sangat luar biasa, dimana saya memiliki beberapa temen dari Malaysia, singapore, Brunai, mereka juga Bahasa Melayu di sana, nah nreka tidak tahu Kalu di Indonesia itu ada Bahasa Melayu, mereka itu tahunya ya melayu miliki bangsa mereka sendiri. Dalam hal ini kita wajib mengajarkan pantun  dan meberikan pengertian dan ciri-cirinya disampaikan dengan tepat

 

P 8 : Yulis – Banyuwangi

Pertanyaan :

1.     Bagaimanakah memotivasi  murid atau peserta didik di sekolah untuk bisa menulis pantun dengan benar?

2.     Bisakah dalam blog kita Pantun di kolaborasi dengan narasi? Terima kasih

Jawab : Nah kalau saya sendiri di sekolah kebetulan di kelas saya ada tema pantun, saya ajarkan cara mudah seperti yang saya sampaikan tadi ya cara mudah untuk membuat pantun, jadi mereka secara tidak langsung belajar menulis pantun kemudian say berikan tantangan yang sama dengan memberikan clue nya kata atau gambar, kemudianm mereka membuat pantun, nah kemudian pantun saya kumpulkan jadi satu terus saya bukukan selain itu juga melalui blog kita kolaborasi dengan narasi sebagai pembuka atau sebagai penutup dalam tulisan di blog

 

P9 : Samsinar_Jakarta

Pantun adalah bagian dari puisi yang tentunya juga memiliki diksi.

Pertanyaan :

Bagaimana cara mentukan dan memilih diksi yang baik pada pantun agar enak dibaca

Jawab : Cari kata yang memiliki bunyi yang sama, usahakan cari kata lain yang  memiliki 2 huruf yang sama

 

P 10 : Tuti - Depok

Pertanyaan :

Jika membuat Antologi Pantun dengan 1 tema. Apakah diperlukan judul lagi di masing-,masing pantun yg dibuat?

Jawab : Untuk antologi biasanya sesuai tema, tapi kalau membuat tema kembali ya tidak apa-apa, yang penting temanya sama dengan yang disepakati

 

P11 : Deasy

Di awal resume saya menulis pantun sebagai berikut:

Buah kelapa dimasukan ke gelas

Jatuh ke semak tanpa ampun

Tak terasa sudah pertemuan ke-13

Yuk kita simak Materi Pantun

Pertanyaan :

Apakah penulisan pantun saya tersebut ada yang keliru?boleh tidak menulis angka?

Jawab : Silahkan disimak kembali baris ketiga, kalau di hitung dari dari awal hingga kata tiga belas, maka sudah lebih dari dua belas suku kata, maka harus diperbaiki kembali.

 

P12 :  Theresia – Pangkalpinang

Pertanyaan :

Apakah bisa, bila saya  menerbutkan buku, yg isinya pantun rohani

Karena setiap pagi saya buat satu pantun dari ayat kitab suci yg saya baca.

Terima kasih

Jawab : Bisa bu, dengan tema kerohanian, bisa dikumpulkan jadi satu dan jadikan buku pantun

 

P13 :

Pertanyaan :

Apakah pantun benar-benar asli kebudayaan nusantara?

Atau, adakah pengaruh dari kebudayaan lain.

Jika ada, kebudayaan mana dan bagaimana kisahnya🙏🏼

 

P14 : Sutalib – Sidoarjo

Pertayaan :

Apakah ada satu keharusan antara bait A dan B pertama, dengan bait A dan B yg kedua, dr sisi isi.

Menurut pemahaman saya, pantun berasal dari kebudayaan Melayu di pulau Sumatera. Tepatnya di kepulauan Riau.

Jawab :

Baris pertama dan kedua hanya sebagai pengantar

Isi atau maksud pantun berada di baris ketiga dan keempat

 

Akhir kata, Pak Miftah menyampaikan bahwa Pantun, mudah tetapi sulit, sulit tetapi mudah, maka teruslah untuk tetap berkarya, berdedikasi dan menginspirasi. Semangat untuk bapak dan ibu di gelombang 28

Pergi berkelah menjaja katun,

Saudagar Arab di tengah pekan,

Segala madah telah disusun,

Salah silap mohon dimaafkan.

 

Terima kasih

 

 

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

RESUME 20. KEGIATAN BELAJAR MENULIS NASIONAL

19. MENGATASI WRITTER'S BLOCK

Resume 9 : Menulis Itu Mudah